SEJARAH SINGKAT SATUAN YONIF MEKANIS RAIDER 411/PANDAWA


I. PENDAHULUAN


1. Umum.

a. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia membuktikan bahwa pertumbuhan Tentara Nasional Indonesia didorong oleh semangat rakyat untuk memiliki Angkatan bersenjata yang dapat melindungi dan mengayomi rakyat Indonesia dari rongrongan penjajah yang ingin menguasai kembali bumi Indonesia.
b. Pertumbuhan Tentara Indonesia khususnya Angkatan Darat mengalami hambatan karena politik pemerintah pada dekade tahun 1950 lebih condong pada politik diplomasi. Hal ini berpengaruh terhadap masa selanjutnya dimana organisasi militer terutama Angkatan Darat sampai dekade akhir tahun 1960 masih belum menemukan bentuk yang definitif.

c. Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad menempuh masa yang panjang sebagai sebuah satuan tempur sebelum menjelma menjadi Yonif Mekanis Raider 411/ PDW/6/2 Kostrad. Bermula dari Batalyon 15 dibawah Resimen 25 Divisi IV, kemudian berganti nama beberapa kali sampai akhirnya terbentuk Yonif Mekanis Raider 411/PDW/ 6/2 Kostrad. Berbagai rintangan dan tantangan yang dihadapi oleh Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad tetapi berkat keinginan untuk tetap tumbuh dan berkembang disertai dorongan dari rakyat maka Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad tetap bertahan sebagai satuan tempur yang manunggal dengan rakyat.

2. Maksud dan Tujuan

a. Maksud. Penulisan ini dimaksudkan untuk mencari dan menggali kembali serta menyusun sejarah satuan Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad yang konkret sejak tahun 1950 sampai perkembangnya Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad sebagai satuan tempur. Realisasi penulisan sejarah ini dimaksudkan agar para prajurit terutama prajurit Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad mengetahui dan dapat menghayati sejarah satuannya.

b. Tujuan. Sebagai bahan pengetahuan terutama bagi prajurit Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad. Diharapkan dengan adanya tulisan sejarah dari satuan tingkat Batalyon, akan disusun sejarah dari Satuan yang lebih tinggi sehingga akhirnya akan dapat terwujud sejarah TNI Angkatan Darat.

3. Ruang Lingkup dan Sistimatika. Menguraikan latar belakang pembentukan satuan Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad sampai pada perkembangannya sebagai alat kekuatan sosial dengan sistimatika sebagai berikut : 

 a. Pendahuluan
 b. Arti dan Makna lambang, tunggul satuan 
 c. Latar belakang pembentukan Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad
 d. Penugasan ( pengabdian satuan )
 e. Pejabat-pejabat Komandan Batalyon
 f. Personel yang gugur di daerah operasi
 g. Prestasi Satuan


II. LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN YONIF MEKANIS RAIDER 411/PANDAWA


 a. Masa Sebelum Pembentukan Batalyon K

 Antara tahun 1945 1950 adalah merupakan masa pergolakan revolusi Indonesia merdeka, dimana negara yang baru dilahirkan ini mencari bentuk pemerintahan yang sesuai dengan alam masyarakat Indonesia. Tahun tahun ini merupakan masa penuh tantangan bagi rakyat Indonesia dan kekacauan sistim pemerintahan adalah merupakan hal yang wajar bagi sebuah bangsa yang baru merdeka. Hal ini dapat kita lihat dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap pertumbuhan Militer/Tentara Nasional Indonesia. 

 Pemerintah masih mengandalkan kekuatan diplomasi karena hal ini merupakan satu-satunya pilihan untuk menghadapi pemerintah Belanda yang masih ingin kembali menguasai Indonesia.

 Dalam situasi yang tidak menentu, pada tahun 1950 di Jawa Tengah tepatnya didaerah Solo berdiri Brigade 5 yang kemudian berubah menjadi Brigade Panembahan Senopati ( Brigade Petugas ) dan mempunyai 3 Batalyon masing-masing Batalyon 351 berkedudukan di Klaten dengan Komandannya Mayor Soenitiyoso, Batalyon 352 serta Batalyon 353 dengan Komandannya Mayor Sudigdo.Batalyon 351 kemudian mendapat tugas operasi APRA dan penumpasan DI/TII Kartosuwiryo diaerah Jawa Barat.

 Pada tahun 1951 ketiga Batalyon tersebut dilebur menjadi 4 Batalyon masing-masing dengan nama Batalyon 415, Batalyon 416, Batalyon 417 dan Batalyon 418 keseluruhan dibawah Resimen Infanteri 15 Batalyon 415 yang dipimpin oleh Mayor Sudigdo dan berkedudukan di Kleco ( Solo ) hanya berusia 1 tahun sebab pada tahun 1952 telah diubah namanya menjadi Batalyon 444 begitupun Batalyon 416, Batalyon 417,dan Batalyon 418 direorganisasi menjadi Batalyon 445 dan Batalyon 446. Karena Mayor Sudigdo dipindah tugaskan, maka pimpinan batalyon diserahkan kepada Mayor Sudiro untuk kemudian pimpinan batalyon diserah terimakan kepada Mayor Ranoewidjojo. 

 Batalyon 444 berkedudukan di Kleco ( Solo ) dan selama itu Batalyon 444 menjalankan tugas antara lain penumpasan DI/TII Jawa Tengah ( Eks Kapten Djami ), penumpasan pemberontakan Batalyon 426 Kudus, pemadaman pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958 dan tugas operasi pembersihan sisa-sisa DI/TII tahun 1959 sebanyak 3 kali. Komandan Batalyon diserah terimakan dari Mayor Ranoewidjojo kepada Mayor Moecalis.Pada tahun 1952 ini dicanangkan Surya Sangkala pada kepala Tunggul Satuan yang berbunyi KANTHI PANDAWA TRUS MANUNGGAL . Surya Sangkala ini mengandung angka 2591 yang diartikan sebagai tahun terbentuknya Batalyon yakni pada tahun 1952.

 Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masih kurang teraturnya organisasi militer terutama di kalangan Angkatan Darat. Reorganisasi satuan dalam waktu relatif singkat maupun pergantian pimpinan dalam masa waktu yang tidak teratur mencerminkan bahwa organisasi militer di Indonesia masih belum menemukan bentuknya yang definitif. Pemerintahan berpendapat bahwa di Indonesai belum cukup memadai untuk menghadapi tantangan dari luar. Akibatnya organisasi militer di Indonesia mengalami hambatan untuk berkembang. 

 b. Penggabungan Batalyon 444 dan Batalyon 446 menjadi Batalyon K 
 Tahun 1961 Resimen Infanteri 15 berubah namanya menjadi Brigade Infanteri 6 dan Batalyon dilingkungan Brigade Infanteri 6 pun direorganisasi masing-masing menjadi Batalyon 444, Batalyon 445 dan Batalyon 446 dan Batalyon 451, Batalyon 444 dipimpin berturut-turut oleh Mayor Marwotosoeko, Mayor Soeryo Soesilo, ( Eks ) Mayor Kaderi. Sedangkan Batalyon 446 dipimpin berturut-turut oleh Mayor Samsoeharto, Mayor Soerono dan Mayor Soedarso.

 Pada tahun 1961 Batalyon-Batalyon dalam jajaran Brigade Infanteri 6 secara bergantian ditugaskan didaerah CBN IV dan Jawa Barat dalam operasi pemulihan keamanan dalam negeri. Sedangkan dari bulan April 1954 sampai dengan bulan Mei 1965 seluruh Batalyon yang tergabung dalam jajaran Brigade Infanteri 6 melaksanakan tugas operasi dalam rangka penumpasan DI/TII Kahar Muzakar di daerah Sulawesi.

 Pada tanggal 1 Agustus 1965 Batalyon-batalyon dalam jajaran Brigade Infanteri 6 direorganisasi menjadi Batalyon K, Batalyon L dan Batalyon M. Batalyon K inilah yang nantinya akan menjadi Batalyon 411, Batalyon K berkedudukan di Kleco ( Solo ) dan dipimpin oleh ( Eks ) Mayor Kaderi.

 c. Peristiwa tahun 1965 dan pengaruhnya terhadap Batalyon K. 

 Tahun 1965 merupakan lembaran hitam bagi bangsa Indonesia dimana pada tanggal 30 September 1965 terjadi pemberontakan PKI, Partai Komunis Indonesia berusaha untuk meggulingkan pemerintahan yang sah dan menggantikan idiologi Pancasila dengan Idiologi komunis. Dalam peristiwa ini telah gugur 7 orang Jenderal sebagai akibat dari kekejaman PKI.

 Sebelum meletusnya gerakan PKI, sebenarnya sudah timbul beberapa gerakan yang menunjukkan bahwa di Indonesia akan timbul gerakan politik yang akan menggulingkan pemerintahan yang sah. Ada beberapa move terutama di daerah jawa tengah, yang merupakan proloog peristiwa G 30 S/PKI.

 Bulan Mei 1965, yakni pada hari ulang tahun PKI yang ke 45, seluruh massa kekuatan PKI mengadakan long mars dari Banyuwangi ke Anyer dengan memamerkan panji-panji PKI. Long mars ini rupanya mempunyai tujuan untuk menunjukkan kepada rakyat khususnya dipulau Jawa akan kekuatan PKI. Disamping itu, di daerah Solo dan sekitarnya ada beberapa peristiwa yang menunjukkan aksi kekuatan PKI, antara lain aksi Pemuda rakyat yang menentang pembebasan tanah di daerah Klaten. Di Boyolali, barisan Tani Indonesia juga menunjukkan aksi menentang pembebasan tanah.

 Pada pertengahan tahun 1965 Komandan DODIK 5 Klaten pernah meminta bantuan Dandim Klaten untuk melatih dasar-dasar kemiliteran bagi pemuda rakyat dan Gerwani, tetapi permintaan ini ditolak. Peristiwa lain adalah terjadinya baku hantam antara prajurit Batalyon 451 dengan anggota GMNI ketika GMNI mengadakan long mars dari Klaten ke Jogja. Dalam peristiwa tersebut, seorang anggota Batalyon 451 di serang oleh anggota GMNI secara beramai-ramai sehingga prajurit tersebut terluka dan berakibat ia memanggil teman-temannya sesama anggota Yon 451 untuk membalas dendam. Akibatnya setiap prajurit Yon 451 yang bertemu dengan Pemuda Marhaen dapat dipastikan akan terjadi perkelahian.

 Dalam politik pemerintahanpun terjadi persaingan antara golongan yang pro dan kontra PKI. DN Aidit sebagai ketua PKI pernah mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar kaum buruh dan tani dipersenjatai sehingga merupakan angkatan ke 5 dalam Angkatan Bersenjata. Tetapi hal ini mendapat tantangan yang keras dari Jenderal AH Nasution. Apakah ini merupakan tindakan untuk menghimpun kekuatan bersenjata? Dari kejadian- kejadian tersebut diatas jelas bahwa PKI cenderung mempengaruhi massa untuk mengadakan gerakan subversi menentang pemerintah Indonesia.

 Pada hahekatnya, peristiwa G 30 S/PKI juga organisasi militer baik dikalangan TNI AD, AU dan Polri. Banyak diantara unsur-unsur pimpinan dalam lingkungan Angkatan Darat yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung pada peristiwa ini. Dilingkungan Brigade Infanteri 6, unsur-unsur PKI telah masuk sampai pada tingkat Batalyonnya, diantaranya unsur Batalyon K terlibat dalam peristiwa ini.

 Salah satu peristiwa yang menggambarkan keterlibatan unsur pimpinan Batalyon K adalah usaha dari Komandan Batalyon yaitu ( eks) Mayor Kaderi untuk menggerakkan 1 Batalyon yang dipimpinnya meninggalkan Home base menuju Semarang dengan tujuan membunuh Panglima Kodam VII/Diponegoro. Berbekal alat persenjataan yang lengkap, berangkatlah para prajurit Batalyon K menuju Semarang tanpa mereka sadari apa tujuannya, sebab sebagai seorang prajurit mereka harus patuh dan loyal terhadap perintah atasan. Tetapi usaha ini dapat digagalkan karena ketika pasukan baru masuk Srondol, sudah diperintahkan untuk kembali ke Home Base, dari gerakan ini dapat diketahui bahwa ada unsur pimpinan Batalyon K yang terlibat langsung gerakan PKI.

 Sebagai tindakan pengamanan terhadap Batalyon K yang dipimpinnya terlibat G 30 S/PKI dan Batalyonnya mempunyai kekuatan senjata lengkap, maka diambil suatu tindakkan terhadap seluruh personel yaitu Batalyon K di BP kan ke Kalimantan selama 18 bulan. Tindakan ini mempunyai tujuan :

 a. Menjauhkan pasukan dari situasi pergolakan.
   b. Menahan Komandan Batalyon agar tidak dapat menggerakkan pasukannya untuk mengacaukan daerah Solo dan sekitarnya.
 Maka pada bulan Oktober 1965, Batalyon K diberangkatkan ke Kalimantan Selatan. Satu bulan kemudian unsur-unsur pimpinan Batalyon K yang terlibat G 30 S/PKI dipanggil ke Jawa tengah untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dan jabatan Komandan Batalyon diserahkan kepada Letkol Bambang Susilo. 

  d. Batalyon K menjadi Batalyon Infanteri 411.

 Selama masa BP di Kalimantan selatan ,Batalyon K bertugas mengamankan wilayah Kalimantan Selatan dikenal dengan Operasi Dwikora yang mencakup tugas pembinaan teritorial.

 Berdasarkan Surat Keputusan Pangdam VII/Diponegoro Nomor Skep-8/2/1966 tanggal 7 Pebruari 1966 dan Surat Perintah Komandan Brigade Infanteri 6 Nomor Sprin-4119/5/1966 tanggal 3 Mei 1966, maka Batalyon K berubah menjadi Batalyon Infanteri 411/Pandawa.

 Bulan April 1967 setelah tugas Operasi Dwikora selesai, Pasukan Yonif 411 kembali ke Pulau Jawa, langsung dipindahkan dari Kleco ke Klaten. Jabatan Komandan Batalyon diserah terimakan dari Letkol Bambang Soesilo kepada Letkol Soegiri.Tugas Letkol Soegiri adalah membersihkan personel sisa-sisa pengaruh PKI.

 Setelah Pasukan menempati pangkalan di Klaten, oleh Letkol Soegiri seluruh Pasukan dicutikan dengan maksud mengamankan alat persenjataan. Pada masa cuti tersebut, para Perwira yang dicurigai terlibat G 30 S/PKI dibebas tugaskan dan Bintara/ Tamtama yang dicurigai dipindah tugaskan ke Irian Jaya. Sisa Pasukan hanya 61 orang. Untuk mengisi kekosongan, Letkol Soegiri menerima 104 orang Bintara dari Brigif 4, 399 orang Tamtama dari Dodik 5 Klaten serta beberapa orang Perwira lulusan AKABRI. Saat itulah, yakni peremajaan personel Batalyon yang bersih dari pengaruh PKI dijadikan sebagai hari lahir Batalyon Infanteri 411 yaitu tanggal 1 Juni 1967.

  e. Batalyon Infanteri 411/Pandawa menjadi Yonif 411/Raider.

   Pada tanggal 14 Agustus 2013 personel Yonif 411/Pandawa yang dinyatakan lulus seleksi Raider melaksanakan Pendidikan Raider di daerah Batu Jajar Jawa Barat selama 3 bulan.

   Berdasarkan Keputusan Kasad Nomor Kep/741/IX/2013 tanggal 23 September 2013 tentang persetujuan dan perubahan status satuan jajaran TNI Angkatan Darat termasuk diantaranya satuan Yonif 411/6/2 Kostrad, sehingga BATALYON INFANTERI 411/PANDAWA resmi menjadi BATALYON INFANTERI 411/RAIDER”.

  f. Batalyon Infanteri 411/Raider menjadi Yonif Mekanis 411/Pandawa.
   
   Berdasarkan Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor 4 Tahun 2016 tanggal 24 Pebruari 2016 tentang penataan Satuan TNI AD dan Validasi Satuan jajaran Kostrad termasuk diantaranya satuan Yonif 411/R/6/2 Kostrad, sehingga BATALYON INFANTERI 411/RAIDER resmi menjadi BATALYON INFANTERI MEKANIS 411/PANDAWA”.

  g. Yonif Mekanis 411/Pandawa menjadi Yonif Mekanis Raider 411/PDW/6/2 Kostrad.
   
   Berdasarkan Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Perkasad 68 tahun 2017 tanggal 5 Desember 2017 tentang penataan satuan jajaran Kostrad dalam jajaran Brigif Mekanis 6/Tri Shakti Balajaya Yonif Mekanis 411/Pandawa mengalami perubahan kembali/validasi Orgas, sehingga BATALYON INFANTERI MEKANIS 411/PANDAWA resmi berubah menjadi BATALYON INFANTERI MEKANIS RAIDER 411/PANDAWA”.

0 Response to "SEJARAH SINGKAT SATUAN YONIF MEKANIS RAIDER 411/PANDAWA"

Post a Comment